Rara,
begitu orang memanggilnya. Cewek cantik, imut, manja dan lugu yang saat ini
baru duduk di kelas satu SMA. Rara yang pendiam tidak tahu apa-apa tentang
kehidupan SMA, dan hanya satu yang ia tahu, yaitu novel. Walaupun sudah satu
bulan menjadi anak SMA, tak ada yang berubah dalam diri Rara. Rara tetaplah
seorang Rara yang masih manja seperti anak kecil. Namun, sifat
kekanak-kanakannya itulah yang membuat orang menyukainya. Hingga akhirnya
sesuatu terjadi dalam kehidupannya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan
sebelumnya. Sesuatu yang mengubah segalanya.
“Pagi
Ra..” sapa Naya teman sebangkunya. “Eh, naya.. pagi juga” balas Rara yang juga
melemparkan senyum termanisnya, lalu kembali ke dalam kesibukannya yaitu
membaca novel. Menurut Rara, membaca novel merupakan satu kewajiban, satu hari
saja ia tidak membaca novel ia pasti akan stress. “Ra, pliss deh.. ini masih
pagi masa lo udah melototin buku lo itu? Ga ada kerjaan yang lain gitu? Yah..
nyapu ke, ngepel, atau apalah.. yang lebih bermanfaat. Daripada melototin buku
ga jelas yang ga akan pernah ada di ulangan matematika, yang akhirnya bikin gue
stress karena harus ngingetin temen gue kalo baca buku kayak ginian ini
gak....” belum selesai Naya menceramahinya, Rara dengan cepat membekam mulut
Naya. “aduh.. lo cerewet banget sih, kan gue udah berkali-kali bilang sama lo,
buku ini bermanfaat ko. Udah yaa.. jangan ceramahin gue lagi, gue mau konsen
nih” ucapnya lalu melepas tangannya dan kembali tenggelam dalam novel.
“bermanfaat buat lo, buat gue?” tanya Naya yang langsung mengambil novel Rara.
“ yah.. Nay ko di ambil? Sini, aku mau lanjutin.. ayo Nay.. siniin” pinta Rara
seperti anak kecil. “engga, gue ga akan kasih. Lo bisa kan baca di rumah.
Mending sekarang lo nyapu gih? Lo piket hari ini kan?” ujar Naya yang saat ini
sedang membolak-balikan novel apa yang sedang Rara baca. “nyapu, udah.” jawab
Rara dengan singkat. “ngepel?” tanya naya lagi “ udah” Rara “ hmm udah yaa..?
ngerjain pr?” diam-diam Naya mulai membaca halaman pertama dari novel itu.
“udah dong..” jawab Rara dengan bangga.
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi pelajaran hari ini di buka dengan ulangan
matematika, tentu saja Rara tetap bersikap tenang daripada teman-teman
sekelasnya yang sedang berteriak sana-sini, dan berharap ini hanya mimpi buruk
di mana saat mereka bangun dari tidurnya ulangan matematika tidak akan terjadi.
Namun sayang ini bukan mimpi, ini kenyataan. Walaupun Rara sangat terobsesi
dengan novel dan hal-hal yang tidak bermanfaat menurut teman sebangkunya-Naya,
tapi Rara salah satu siswi terpintar di kelasnya.
“
waktu ulangan habis, silahkan kumpulkan jawabannya” perintah pak Andi. Anak
-anak pun langsung menyebut-nyebut satu kata yaitu 'Rara'. “Ra, 3 dong eh, 5
juga deh?” pinta Arya KM di kelasnya. Namun, Rara tidak sama sekali menoleh ia
hanya pura-pura tidak mendengar. Rara memang pelit, pelit dalam artian tidak
memberi contekan kepada siapapun termasuk Naya. Jam pelajaran pun sudah
berganti dan sekarang adalah saatnya Rara kembali ke novelnya. Setiap pelajaran
ini, ia memang tidak pernah memperhatikan guru yang sedang menerangkan di
depan. Rara selalu membaca novelnya, dengan alasan ia tidak mengerti pelajaran
ini dan sampai kapanpun juga. Yap.. Rara tidak suka pelajaran keagamaan, dan
ini salah satu kekurangannya.
Hingga
waktu istirahat pun tiba... “ra, lo mau beli apa?”tanya Naya yang sepertinya
sudah sangat lapar. “hmm apa aja deh.. tapi anterin gue ke perpus dulu yak? Gue
mau pinjem novel lagi..” jawab Rara dan langsung jalan terburu-buru menuju
perpus takut novelnya kehabisan. “hah? Pinjem novel? Itu yang lo pegang apaan
ra? Bungkus bala-bala? Yang lo pegang aja belom beres, trus lo mau pinjem
lagi?”tanya Naya tidak percaya. Rara tak
memperdulikan pertanyaan naya, ia hanya membalasnya dengan senyum termanisnya
lalu pergi meninggalkan Naya. “eh,,eh,, ra tungguin dong..”pinta Naya yang
langsung berlari mengikutinya. karena tidak sabar ingin meminjam novel, Rara
bertabrakan dengan seseorang. “Aw.. duh sakit banget” ringik Rara yang
kesakitan. “astagfirullah.. eh maaf-maaf gue ga sengaja. Lo ga apa-apakan?”
tanya seseorang yang segera menghampiri
Rara. “ sakit tau,,” jawab Rara “ya ampun ra,, lo ga apa-apakan? Makannya lo
hati-hati dong, kalo mau masuk itu liat dulu ada orang yang mau apa engga. Nah
ini maen ngelengos aja masuk. Kan jadinya gini, cuma gara-gara novel lo sam..”
seperti biasa Rara langsung memotong pembicaraan naya. “Nay, bantuin gue bangun
napa? Sakit nih.. lo malah nyeramahin gue, gimana sih..”. “nah iya. Alangkah
lebih baiknya kamu bantuin temen kamu duu, daripada marah-marah yang ga jelas.”
pinta seseorang yang rara tabrak. “Eh” Naya tersontak kaget, tiba-tiba
disampingnya ada seorang laki-laki yang sangat tampan, kece, cool, keren,
manis, putih, tinggi, dan ia tidak bisa menggambarkan bagaimana wajahnya saat
ini, mungkin ia sedang mangap atau sudah pingsan melihat laki-laki itu. “hey!”
suara itu yang akhirnya membuat Naya terbangun dari lamunannya. “lo ganteng
banget. Eh, sorry gue” tanpa sadar naya mengucapkan kata yang-memang ingin ia
ucapkan. Naya pun langsung membantu Rara yang masih duduk dan kesakitan. “aduh
nay, pantat gue sakit banget nih..”. Naya tidak menjawab, ia hanya melotot lalu
menunjuk ke arah depan.“lo kenapa sih?” tanya Rara yang makin bingung. “Lo gak
apa-apa?” tanya laki-laki itu. Reaksi Rara pun tak jauh berbeda dengan Naya,
Rara langsung mengusap matanya tak percaya apa yang ia lihat, ini mimpi atau
emang kenyataan? Tanya Rara di dalam hatinya. “Lo gak apa-apa?” tanya laki-laki
itu pada rara. “Eh.. oh,, gue.. gak apa-apa ko. Gue baik-baik aja” jawab Rara,
juga tak lupa senyum termanisnya. “katanya pantat lo sakit ra?” tanya Naya
dengan polos. “hmm.. udah ilang ko nay sakitnya,, hhe”. “Alhamdulillah kalo lo
gak apa-apa. Oh iya gue minta maaf, gue tadi..” Rara langsung angkat bicara,
“Eh lo gak perlu minta maaf, gue yang salah. Yang harusnya minta maaf itu gue,
bukannya elo. Maaf yah, gue tadi buru-buru masuk ke perpus sampe gak liat ada
orang yang mau keluar. Jadinya kaya gini deh,, Maaf banget..” yah itu memang
kebiasaan Rara selalu berbicara disaat seseorang belum selesai
berbicara-memotong pembicaraan. “gue juga salah, gue gak liat lo. Iya udah gue
maafin. Hmm yaudah lain kali hati-hati ya. Gue pergi dulu assalamu'alaikum”
jawab laki-laki itu yang lansung pergi meninggalkan mereka berdua yang masih
bengong. “Rara?? lo lupa sesuatu..” kata naya yang langsung tersadar setelah
punggung laki-laki itu tidak terlihat. “lupa apaan?”Rara pun bergumam apa yang
sudah ia lupakan “novel! Gue lupa kalo gue mau pinjem novel” sambung rara. Naya
menarik napasnya lalu kembali mengingatkan “bukan ra, bukan novel.. tapi nama
cowo itu, kita kan belom kenalan.” “oh iya kita kan belom tau namanya, kelasnya.
Yah, mana tu cowo ganteng banget lagi. Hmm gue mau pinjem novel dulu ya..” ia
pun seger masuk ke perpus. Di saat itu pula Naya langsung membenturkan
kepalanya ke pintu perpus, Naya merasa kasihan pada sahabatnya itu yang sudah
kecanduan novel. “RARA!!!”
Setelah
mendapatkan apa yang diinginkan Rara mereka pun pergi menuju kantin. Dan segera
memesan makanan, setelah mendapatkan pesanan masing-masing mereka berdua
bingung di mana mereka akan duduk untuk menikmati makanan ini karena semua
bangku di kantin sudah di tempati. “Hey! Di sini” teriakan seseorang yang
langsung membuat mereka mencari di mana suara itu berasal dan tak menyangka
suara itu adalah laki-laki yang tadi di perpus. “kebetulan di sini masih
kosong..” kata laki-laki itu sambil tersenyum. Dengan sangat berbahagia mereka
pun segera menuju meja laki-laki itu yang memang masih kosong, karena hanya dia
seorang yang menempatinya. “makasih..” kata Rara yang juga membalas senyum
laki-laki itu. Selama mereka menikmati makanan tak ada di antara mereka bertiga
yang berbicara, hening yang terdengar hanya suara sendok yang menabrak mangkok.
“hmm btw, nama lo siapa? Lo kelas mana?” tanya Naya membuyarkan heningnya
suasana dan membuat rara dan laki-laki itu tersedak. “ehmm,, oh iya kita belum
kenalan ya? Hmm nama gue Raka, gue kelas 12 ipa 1.” jawab raka. “kelas.. 12..
oh maaf kak, kita kira masih kelas 10, maaf ya kak?”kata Naya yang merasa
bersalah. “Iya gak apa-apa.” jawab Raka yang selalu di akhiri dengan senyuman.
“ hmm aku Naya kak, kelas X.1” kata naya yang sedang memperkenalkan dirinya.
Sementara Rara, ia sibuk membaca novelnya dan sebenarnya ia juga ingin
memperkenalkan dirinya. “oh iya kak, ini sahabat aku namanya Raya, tapi aku
biasa panggil dia Rara.” sambung Naya, kemudian menyenggol tangan rara. “eh,
iya aku Rara kak, salam kenal..” kata Rara yang semakin membuat hatinya
berdebar aneh. “Rara ini kak, terobsesi banget sama yang namanya novel, gak
pernah tuh aku liat rara sehari aja tanpa novel. Padahalkan novel itu gak ada
manfaatnya. Nah kejadian yang tadi itu, juga karena novel kak. Saking
buru-burunya pengen pinjem novel sampe gak liat kakak, jadi deh tabrakan”
lanjut Naya yang sekaligus membuka aib Rara sahabat sendirinya. Mendengar sahabatnya berbicara tentangnya seperti itu
Rara hanya bisa cemberut dan malu. Raka pun hanya tertawa mendengar ocehan Naya
dan melihat Rara yang sedang menahan marah pada sahabatnya. “hahaha.. hobi
seseorang itukan berbeda-beda, gak ada yang salah kok kalo Rara suka baca
novel, asalkan Rara bisa membagi waktu. Kapan waktu untuk membaca novel, dan
waktu untuk belajar.” jawab raka yang tersenyum ke arah Rara. “iya, aku setuju
sama kakak” kata Rara yang sangat senang karena ada orang yang membelanya dan
sudah pasti bahagia karena Raka tersenyum padanya. Senyuman yang hangat dan
sangat tulus. Oh tidak! Kenapa ini? Kenapa, tiba-tiba jantungku berdebar-debar
seperti ini? Rara pun segera menyentuh dadanya dan ia merasa ketakutan. “Rara
kamu.. kenapa?” tanya raka yang heran melihatnya. Rara tak menjawab, karena
Rara sendiri bingung ia kenapa. “Ra? Lo kenapa? Lo jantungan? Masa sih sobat
gue jantungan. OMG!! kenapa lo gak pernah cerita kalo lo itu punya penyakit
yang parah. Ra, guekan sahabat lo, lo bisa cerita ke gue..” pikir Naya yang
kelewatan melihat sahabatnya dan Naya pun sangat sedih. “Huss! Lo kalo ngomong
hati-hati dong Nay! Masa masih muda gini udah jantungan. Gue gak apa-apa kok”
kata Rara yang mencoba meluruskan omongan Naya. Sementara itu, Raka terlihat
sangat lega bahwa Rara baik-baik saja. “Alhamdulillah kalo Rara gak apa-apa.
Untuk Naya, lain kali kalo berbicara harus hati-hati ya? Karena apa yang kita
bicarakan itu bisa menjadi do'a untuk orang itu” jelas Raka. “iya kak, lain
kali aku pasti hati-hati kalo ngomong” sahut Naya. “waktu istirahatnya sebentar
lagi udah mau habis, jadi kakak duluan ke kelas. Assalamu'alaikum” kata Raka
yang langsung bangkit dari kursinya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“wa'alaikumsalam” jawab mereka kompak.
Setelah
kejadian tabrakan di perpus dan berkenalan di kantin dengan Raka, Rara selalu
senyum-senyum sendiri mengingat dua kejadian itu, apalagi senyuman Raka yang
hangat dan tulus.
Pada saat pulang sekolah, Rara
melihat Raka di masjid sedang berkumpul dengan teman-temannya. Rara juga sempat
mendegar suara merdu Raka yang sedang melantukan beberapa ayat Al-Qur'an. Rara
merasa jiwa dan hatinya merasa tenang, tidak ada kekosongan lagi. Hampir setiap
hari Rara selalu bertemu dengan Raka di perpus, karena memang rara selalu
mengunjungi perpus untuk mengembalikan novel atau meminjam lagi. Sedangkan
Raka, ia selalu memanfaatkan seperempat waktu istirahatnya untuk membaca
buku-buku yang bertemakan agama dan lainnya.
“Hai
kak?” sapa Rara setelah melihat ada Raka yang sedang membaca buku tentang
ketauhidan. “Eh, Rara..” balas Raka yang di akhiri dengan senyumnya. Dengan
senang hati Rara pun membalas senyum Raka. “hmm.. kakak suka banget ya, sama
buku-buku kaya gini?” tanya Rara penasaran. “iya itu sudah pasti, karena
buku-buku seperti ini sangat bermanfaat dan memberikan wawasan yang sangat luas
tentang Islam yang kakak belum tau” jawab Raka lalu melanjutkan bacaanya.
Mereka pun saling berbagi isi buku yang mereka baca. Sebelumnya, Rara belum
pernah menceritakan novel yang telah ia baca kepada siapapun kecuali Raka.
Sampai-sampai mereka diusir oleh penjaga perpus karena berisik. Lalu mereka
melanjutkannya di taman belakang sekolah.
Sudah
satu bulan Rara dan Raka berteman, dan selama satu bulan itulah Rara mersakan
sesuatu yang aneh. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan, sesuatu yang membuatnya
semakin tidak mengerti. “wooyy!! pagi-pagi udah ngelamun” teriak Naya yang
membuat Rara bangun dari lamunannya. “apaan sih lo? Ngagetin mulu? Lo pengen
gue jantungan?” jawab Rara dengan kesal dan kembali melamun. “Ra? Hati-hati loh
pagi-pagi udah ngelamun. Ntar lo kesambet lagi, eh? Hhe” gerutu Naya. “Nay, lo
tau gak cinta itu apa?” tanya Rara yang akhirnya membuka mulut pada sahabatnya
tentang apa yang selalu mengusiknya setiap hari. “cinta? Hmm.. setau gue, cinta
itu sebuah perasaan sayang kita ke seseorang yang apa adanya. Cinta itu tulus
dan tanpa alasan.” jawab Naya dengan jelas. Rara malah semakin bingung
mendengar jawaban sahabatnya dan kembali melamun. “Nay, apa gue cinta sama kak
Raka.” bisik Rara pada Naya. “WHAT???” teriak Naya mendengar bisikan Rara. “lo
cinta sama kak Raka? Hmm emang iya sih, keliatan banget dari muka lo..”
sambungnya. “keliatan, maksud lo?” tanya Rara tidak mengerti. “yah, gue udah
tau kalo lo itu suka sama kak Raka, sayang sama dia.” balas Naya. “kalo lo udah
tau, kenapa lo gak pernah bilang ke gue nay? Aah lo mah,, bikin gue stress aja.
Lo tau gak? Gue bingung sama diri gue sendiri, sejak gue deket sama kak Raka
gue ngerasa ada sesuatu yang aneh menurut gue, sesuatu yang belom pernah gue
rasain. Gue nyaman banget waktu ada di deket dia, gue seneng liat senyum dia,
yah pokonya all about him i'm like..” jelas Rara yang blak-blakan. “ciyeee..
sobat gue ada yang jatuh cinta nih.. wow.. first love lagi,, aah akhirnya sobat
gue ternyata masih waras. Gue kira lo gak bakal pernah suka sama cowok, lo kan
nempel trus sama novel, eh ternyata gue salah dan gue bersyukur banget bisa
liat sobat gue tanpa novel.. hhe” ujar Naya. “terus gue harus gimana nay?”
tanya Rara. “yaa.. lo tinggal bilang ke dia Ra,, kalo lo sayang sama dia” jawab
Naya. Namun, Rara hanya terdiam. “jujur aja Ra, itu bagus ko” ujar Naya memberi
semangat.
Taman
belakang sekolah terlihat tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa siswa yang
masih duduk untuk menikmati pemandangan dan menghilangkan stress karena
pelajaran yang terlalu susah untuk dimengerti. Begitu juga dengan Rara yang
sedang gelisah menunggu Raka, bahkan ia lebih stress memikirkan perasaannya
daripada soal pelajaran yang memang untuk hari ini lumayan sangat menguras
otak. Tak lama kemudian Raka pun datang, “assalamu'alaikum.. maaf kakak telat.
Oh iya, Rara pengen ngomomong apa?” tanya Raka. Yang sepanjang jalan menuju
taman ia penasaran apa yang akan dibicarakan oleh Rara. “hmmm.. gini kak. Aku
juga bingung dan gak ngerti sama diri aku sendiri, apa yang aku pikirin pasti
beda sama apa yang aku rasain. Aku.. sayang
sama kakak.” berhenti sejenak untuk mengambil nafas lalu melanjutkannya
“aku nyaman deket kakak, senyum kakak yang hangat dan tulus, kakak yang baik
dan ngerti aku, kakak udah ngisi kekosongan yang ada di diri aku. Yang aku
sendiri gak tau kekosongan itu berasal dari mana. Setiap aku deket sama kakak,
sharing tentang novel, aku ngerasa ada sesuatu yang kembali ke dalem diri aku
yang udah lama ilang. Aku udah lupa kapan terakhir kalinya aku berbagi sama
orang tentang novel, tentang aku, setelah ayah dan ibu pergi. Maaf kak, kalo
aku harus ngomong kayak gini, aku gak tau harus gimana lagi. Karena yang aku
tau, aku sayang sama kakak, dan aku mohon jangan pergi tinggalin aku sama kayak
ayah dan ibu yang pergi ninggalin aku..” ujar Rara dan akhirnya ia sampai ia meneteskan air matanya. Raka tak
langsung menjawab, ia hanya memandang lurus ke depan, entah apa yang ia
fikirkan Rara tak pernah tau, “perasaan memang tidak bisa disalahkan, ia datang
dan pergi seenaknya tanpa kita inginkan. Hanya saja bagaimana cara manusia
memperlakukan perasaan itu, dan kebanyakan manusia salah menggunakan perasaan
itu. Perasaan yang suci, anugrah dari Tuhan malah berakhir jadi maksiat dan
dosa besar lainnya. Apa yang tadi Rara katakan juga sebenarnya salah.
Seharusnya, Rara cukup mencintai seseorang hanya dalam diam. Tak perlu memberi
tahu orang itu, cukup berdo'a dan cepat-cepat menghapus perasaan itu. Itu yang
harusnya Rara lakukan, dan Rara gak perlu bingung.” jawab Raka dengan tegas.
Yang membuat Rara semakin merasa bersalah, “maaf kak, aku gak tau. Kalo ini..
aku,, aku minta maaf” kata Rara yang masih tersedu menangis menyesali
perbuatannya. “Iya gak apa-apa. Oh iya, kakak punya buku yang bagus untuk kamu.
Buku yang bisa membimbing kamu dengan perlahan-lahan. Rara juga harus mulai
suka sama pelajaran keagamaan dan buku-buku yang berkaitan tentang agama.
Karena itu sangat penting untuk menjaga iman kita dan mengetahui kewajiban dan
larangan-Nya.” lalu menyerahkan buku yang sampulnya berwarna merah muda yang
berjudul tausyah cinta. Rara pun menerima buku itu dengan penuh harapan ia akan
mengerti lebih dalam lagi mengenai agama Islam dan cinta dalam Islam. “Makasih
kak, Aku janji akan mencoba menyukai apa yang gak aku suka” menghapus air
matanya lalu tersenyum. Raka melirik Rara lalu tersenyum juga padanya, “jangan
lupa di baca bukunya” katanya. “iya aku baca, tapi entar kalo aku udah baca
semua novel yang aku pinjem plus aku beli, hehe” mereka pun tertawa bersama.
Kita
memang tidak akan pernah tahu bagaimana isi hati seseorang, begitu pun Rara, ia
tidak pernah tahu perasaan Raka padanya. Namun, itu tidak menjadi alasan untuk
Rara, untuk berhenti mengagumi Raka. Cinta, yang mengubah hidupnya. Kini Rara
menutup auratnya, ia juga mulai mendalami segala sesuatu yang berkaitan dengan
agama dan ia suka itu. Rara yang dulu tidak tahu apa-apa selain novel, kini
berubah menjadi seorang Rara, perempuan yang solehah.
'Terimakasih kak! Terimakasih untuk
semuanya.. kakak udah ngajarin aku banyak
hal, kakak udah buat aku jadi orang yang lebih baik lagi dan satu hal yang aku
tahu saat ini yaitu aku mencitaimu karena Allah.' ucap Rara dalam hatinya.








0 komentar:
Posting Komentar