Warna biru yang mendominasi
tempat tidurku sekali lagi membuatku terpana. Logo AC Milan berwarna kuning dan
taburan bintang putih menambah kesan luar angkasa yang mengagumkan. Aku
terduduk di kursi berwarna merah tanpa sandaran yang terbuat dari bahan plastik.
Cahaya dari monitor komputer yang tegak di atas kasur membuat mataku tetap
terjaga dari malam yang semakin larut. Tugaslah yang membuatku sedikit terpaksa
melakukannya. Sudah dipastikan kalau bukan karena hal yang bernama tugas aku
pasti sudah terdampar di luar angkasa itu, kasurku.
Praktikum
fisika di sekolah mengharuskan para siswa membuat laporan. Sebenarnya sih tugas
kelompok, tapi ya begitulah, giliran membuat laporan pati aku yang mengejarkan.
Jauh ke dalam hatiku, sebenarnya aku sebal, tapi kalau dipikir-pikir
menguntungkan juga sih mengerjakannya sendiri, jadi aku yang paling tahu di
sini. Licik sih emang, tapi siapa suruh aku ngerjain sendiri.
Sekali-kali
aku kesal karena internet loadingnya lama. Ku perhatikan jam di layar monitor
ku, ternyata menunjukan pukul 10:18 pm. Wajar saja kalau aku merasa lelah dan
kesal. Sedangkan laporan masih panjang ceritanya. Huuh! Aku sungguh ingin
berteriak sekencang-kencangnya. Tetapi niat itu aku urungkan. Bisa dibayangkan
bila aku berteriak, orang-orang menjadi bangun, dan aku dimaki habis-habisan
hingga aku jadi tambah stress. Sudah cukup aku dibuat stress oleh tugas. Jadi,
menjauhlah stress-stres yang lain. Huss!
Di
tengah perang hebat yang terjadi antara perasaan dan pikiranku akibat stress,
tiba-tiba handphone ku bergetar tanda sms masuk. Ku lihat sekilas layar
handphone itu dan tertera nama pengirimnya, Daniar. Awalnya ku malas membuka
sms itu karena tugas masih numpuk, karena bisa dipastikan kalau aku buka sms itu
pasti ke ujung-ujungnya sms-an. (-_-).
Beberapa
saat kemudian aku baru tersadar. OMG! Tumben dia sms. (-_-) ngapain ya? Udah
lebih dari sebulan yang lalu kami sms-an. Ya mungkin kita sibuk sama urusan
masing-masing. Akhirnya, aku pun membuka dan membaca sms itu. Isi dari pesan
singkat itu kurang lebih seperti ini, “Sahabat, aku tau aku bukan yang
sempurna, tapi aku berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian. Maafkan aku jika
aku punya salah sama kalian.”
Sejenak
kata-kata itu membuatku terharu. Tetapi di pikiranku yang lain, aku
berpikir dia agak lebay. (-_-) bukan
maksud aku memponis dia anak alay, tapi itu sungguh membuat ku sangat sangat ..
ah, tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya aku balas pesannya. ”Iye,
dimaafin. Belum tidur, Lo?”
Tak
lama kemudian balasan pun datang. “Belum. Eh, Lo kenapa gak pernah dateng
kalau diajak kumpul?”.
Hahahaha
! itulah yang aku takutkan. Selama ini aku memang selalu berhasil menghindar
dengan berbagai alasan untuk tidak ikut kumpul bareng. Oh, sejenak aku merasa
tidak enak hati. (-_-). Sorry Friend, aku memang sahabat, tapi kurang
bersahabat. (O_0)
“Eh
sorry, gue sibuk..” Sesingkat
itu balasanku? Nyesel? Ah, terlanjur.
Arrrrgh..
(-_-) aku jadi serba salah. Bagaimana kalau dia sebel? Bagaimana kalau dia marah?
Bagaimana kalau.. bagaimana kalau.. bagaimana kalau.. BERbagai pertanyaan
melayang-layang di otakku. Puyeeng!
“ya
udah deh terserah Lo.. bye.”. Seketika
aku terdiam setelah membaca balasan itu. Satu detik, dua detik, tiga detik,
Arrrrggh..!!! Ahhhhhh…!!!!! (mukul-mukul bantal) Aku berteriak. (-_-). Aku
sadar, OMG. Aku langsung matikan notebook, pergi ke kasur, ambil selimut,
tidur. Tugas? Bodo amat, aku sudah terlalu stress, dan sudah dipastikan orang
rumah bakalan bangun dan ngomel-ngomel karena aku berteriak tengah malam, dan
sudah dipastikan lagi stresnya pasti bertambah, maka lebih baik aku tidur.
Solusi terbaik. (>_<)zzZzz




















