Rabu, 24 September 2014

Solusi Terbaik (Nendra Setiawan)



Warna biru yang mendominasi tempat tidurku sekali lagi membuatku terpana. Logo AC Milan berwarna kuning dan taburan bintang putih menambah kesan luar angkasa yang mengagumkan. Aku terduduk di kursi berwarna merah tanpa sandaran yang terbuat dari bahan plastik. Cahaya dari monitor komputer yang tegak di atas kasur membuat mataku tetap terjaga dari malam yang semakin larut. Tugaslah yang membuatku sedikit terpaksa melakukannya. Sudah dipastikan kalau bukan karena hal yang bernama tugas aku pasti sudah terdampar di luar angkasa itu, kasurku.

Praktikum fisika di sekolah mengharuskan para siswa membuat laporan. Sebenarnya sih tugas kelompok, tapi ya begitulah, giliran membuat laporan pati aku yang mengejarkan. Jauh ke dalam hatiku, sebenarnya aku sebal, tapi kalau dipikir-pikir menguntungkan juga sih mengerjakannya sendiri, jadi aku yang paling tahu di sini. Licik sih emang, tapi siapa suruh aku ngerjain sendiri.

Sekali-kali aku kesal karena internet loadingnya lama. Ku perhatikan jam di layar monitor ku, ternyata menunjukan pukul 10:18 pm. Wajar saja kalau aku merasa lelah dan kesal. Sedangkan laporan masih panjang ceritanya. Huuh! Aku sungguh ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tetapi niat itu aku urungkan. Bisa dibayangkan bila aku berteriak, orang-orang menjadi bangun, dan aku dimaki habis-habisan hingga aku jadi tambah stress. Sudah cukup aku dibuat stress oleh tugas. Jadi, menjauhlah stress-stres yang lain. Huss!

Di tengah perang hebat yang terjadi antara perasaan dan pikiranku akibat stress, tiba-tiba handphone ku bergetar tanda sms masuk. Ku lihat sekilas layar handphone itu dan tertera nama pengirimnya, Daniar. Awalnya ku malas membuka sms itu karena tugas masih numpuk, karena bisa dipastikan kalau aku buka sms itu pasti ke ujung-ujungnya sms-an. (-_-).

Beberapa saat kemudian aku baru tersadar. OMG! Tumben dia sms. (-_-) ngapain ya? Udah lebih dari sebulan yang lalu kami sms-an. Ya mungkin kita sibuk sama urusan masing-masing. Akhirnya, aku pun membuka dan membaca sms itu. Isi dari pesan singkat itu kurang lebih seperti ini, “Sahabat, aku tau aku bukan yang sempurna, tapi aku berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian. Maafkan aku jika aku punya salah sama kalian.”

Sejenak kata-kata itu membuatku terharu. Tetapi di pikiranku yang lain, aku berpikir  dia agak lebay. (-_-) bukan maksud aku memponis dia anak alay, tapi itu sungguh membuat ku sangat sangat .. ah, tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya aku balas pesannya. ”Iye, dimaafin. Belum tidur, Lo?”

Tak lama kemudian balasan pun datang. “Belum. Eh, Lo kenapa gak pernah dateng kalau diajak kumpul?”.

Hahahaha ! itulah yang aku takutkan. Selama ini aku memang selalu berhasil menghindar dengan berbagai alasan untuk tidak ikut kumpul bareng. Oh, sejenak aku merasa tidak enak hati. (-_-). Sorry Friend, aku memang sahabat, tapi kurang bersahabat. (O_0)

“Eh sorry, gue sibuk..” Sesingkat itu balasanku? Nyesel? Ah, terlanjur.

Arrrrgh.. (-_-) aku jadi serba salah. Bagaimana kalau dia sebel? Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau.. bagaimana kalau.. bagaimana kalau.. BERbagai pertanyaan melayang-layang di otakku. Puyeeng!


“ya udah deh terserah Lo.. bye.”. Seketika aku terdiam setelah membaca balasan itu. Satu detik, dua detik, tiga detik, Arrrrggh..!!! Ahhhhhh…!!!!! (mukul-mukul bantal) Aku berteriak. (-_-). Aku sadar, OMG. Aku langsung matikan notebook, pergi ke kasur, ambil selimut, tidur. Tugas? Bodo amat, aku sudah terlalu stress, dan sudah dipastikan orang rumah bakalan bangun dan ngomel-ngomel karena aku berteriak tengah malam, dan sudah dipastikan lagi stresnya pasti bertambah, maka lebih baik aku tidur. Solusi terbaik. (>_<)zzZzz

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More